teks ceramah agama tentang istiqomah
IstiqomahMenurut Khulafaur Rasyidin. Khulafaur rasyidin atau khalifah setelah nabi Muhammad SAW yang memimpin umat islam memiliki arti tersendiri menyangkut istiqomah, yakni (baca sejarah islam dunia dan sejarah islam di Arab Saudi). Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A menyebutkan bahwa istiqomah adalah perilaku seseorang yang tidak menyekutukan Allah dengan yang lainnya atau tidak berbuat syirik.
Nah materi ceramah tentang ikhlas pun bisa kamu bawakan dalam kuliah tujuh menit kamu nanti. Tidak lupa sertakan hadis dan ayat yang relevan mengenai ikhlas yang bisa mendukung materi kamu ini. 9. Materi Kultum Tentang Orangtua akhirot.co. Allah SWT mengatakan bahwa restu-Nya tergantung restu orangtua. Ridho-Nya juga berdasarkan keridhoan
D Istiqomah. 24. Perhatikan pernyataan berikut! 1. Akan dipercaya orang lain, 2. Mendapatkan banyak teman, 3. Mendapatkan banyak harta, Contoh Teks Naskah Pidato Agama Islam Tentang Akhlak Mul Contoh Teks Pidato Sambutan Keluarga Acara Resepsi Pernikahan Contoh Teks Pidato Sambutan Keluarga Acara Resepsi Pernik
LIVE- " KEBERSAMAAN DALAM BINGKAI IMAN DAN AMAL" - Kendari, Sulawesi Tenggara Majelis Az-Zahra, Pondok Pesantren . Nikmat Istiqomah & Iman "renungan". [ust. Prof. Dr. H. Abdul Somad, Lc,. MA] Putar sampai habis insya allah sangat bermanfaat sekali buat kita. Bantu kembangkan Channel ini dengan cara like, Share .
Naskahcontoh teks pidato singkat tentang pendidikan, perpisahan di sekolah dan kampus, pidato narkoba, pergaulan bebas, agama, serta contoh . 7 contoh pembukaan teks pidato lucu dan unik. Secara struktur teks pidato terdiri dari pembukaan, isi pidato, dan penutup. Nah bagi kalian yang bingung membawakan tema . Contoh pembukaan teks pidato yang .
Site De Rencontre Avec Femme Arabe. Hadits Arbain Ke 21 – Hadits Tentang Istiqamah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah الأربعون النووية atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 6 Muharram 1442 H / 25 Agustus 2020 M. Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi Status program kajian Hadits Arbain Nawawi AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 1630 - 1800 WIB. Download juga kajian sebelumnya Hadits Arbain Ke 20 – Hadits Tentang Malu Kajian Hadits Arbain Ke 21 – Hadits Tentang Istiqamah Hari ini kita akan berpindah pada hadits nomor 21 dari kitab yang agung ini. Yaitu hadits Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi Radhiyallahu Anhu. Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, dari Sufyan bin Abdillah Radhiyallahu Anhu, bahwasannya beliau berkata “Saya telah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Wahai Rasulullah, katakanlah dalam Islam ini suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentangnya kepada seorangpun selain engkau’ Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ “Katakanlah aku telah beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah.” HR. Muslim Jadi ini adalah hadits riwayat Muslim dari Sufyan bin Abdullah Radhiyallahu Anhu. Beliau adalah Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, seorang sahabat yang berasal dari kota Thaif dan termasuk rombongan yang mengunjungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang kemudian dikenal sebagai utusan Thaif. Thaif adalah sebuah kota pegunungan dengan hawa yang dingin menyejukkankan sekitar 80 kilo dari kota Mekah. Dan beliau juga pernah diamanahi untuk memegang urusan zakat di kota Thaif. Bahkan pernah juga menjadi pemimpin di kota Thaif yang mungkin setingkat bupati atau yang semacamnya di kota Thaif ini dan beliau juga meriwayatkan 5 hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan para penulis biografi beliau tidak menyebutkan pada tahun berapa beliau lahir atau wafat. Dalam hadits ini Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi seperti sahabat lain yang menunjukkan semangat mereka untuk bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang perkara yang bermanfaat untuk mereka. Menjadikan obrolan mereka obrolan yang berkualitas, bermanfaat untuk dunia akhirat mereka. Dan seperti kita juga, mereka menginginkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kata-kata yang pendek tapi sarat makna, pesan-pesan yang ringkas tetapi memiliki makna yang dalam. Maka ini adalah salah satunya. Lihat bagaimana Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam “Wahai Rasulallah, katakanlah untuk saya dalam Islam ini sebuah perkataan yang aku tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain tentang hal itu, cukup aku mendengarnya darimu Wahai Rasulullah satu perkataan yang cukup.” Ini menunjukkan bahwasanya mereka haus, mereka sangat ingin mendengar Jawami’ul Kalim kalimat-kalimat pendek sarat makna dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Yang Jawami’ul Kalim ini kemudian dihimpun oleh para ulama dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah termasuk kalimat yang memiliki sifat Jawami’ul Kalim, pendek dan sarat makna. Maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memenuhi permintaan sahabat beliau. Dan beliau mengatakan “Katakanlah wahai Sufyan bin Abdillah, aku telah beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.” Jadi beliau mengajarkan dua hal, yang pertama mengikrarkan, menyatakan dan bersaksi bahwasanya Tuhanku adalah Allah, aku beriman kepada Allah, setelah itu istiqamah di atas jalan itu. Dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ “Katakanlah Tuhanku adalah Allah’, kemudian istiqamahlah di atas hal itu.” Dua riwayat ini memiliki makna yang agak berbeda. Adapun riwayat yang kedua, yaitu “Katakanlah Tuhanku adalah Allah kemudian istiqamahlah di atasnya.” Ini senada dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّـهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah di atas hal itu, akan turun kepada mereka Malaikat di saat kematian mereka dan para Malaikat ini mengatakan kepada mereka Jangan kalian takut, jangan kalian sedih sedih, dan bergembiralah dengan surga telah dijanjikan untuk kalian.'” QS. Fussilat[41] 30 Orang-orang yang telah mengatakan “Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqaham di atas hal itu” maka mereka akan mendapatkan keutamaan seperti yang telah disebutkan dalam ayat. Mereka akan didatangi oleh Malaikat saat mereka meninggal kemudian dikatakan kepada mereka “Jangan kalian takut kepada urusan setelah kematian dan jangan kalian sedih dengan apa yang kalian tinggalkan, perpisahan dengan keluarga kalian, harta kalian di dunia, dan berbahagialah kalian dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian. Ini senada dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi yang dimaksud adalah seorang muslim hendaknya bertauhid kepada Allah, bersyahadat kepada Allah, mengikrarkan keimanan ini, mengumumkan tauhid ini kepada orang lain agar mereka tahu. Kita katakan “Tuhan kita adalah Allah” kemudian kita istiqamah diatas keyakinan bahwa Tuhan kita adalah Allah. Karenanya, saat menafsirkan ayat ini Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan bahwa makna istiqamah dalam ayat ini adalah mereka tidak berbuat syirik kepada Allah, mereka tidak menyekutukan Allah. Jadi yang dituntut adalah mengikrarkan Tuhan kami adalah Allah kemudian yang kedua adalah istiqamah dalam arti tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun. Ini kelihatannya sederhana, tapi ternyata tidak semudah itu. Karena banyak orang yang menyembah Allah, mencintai Allah, mengagungkan Allah, bersama keyakinan itu mereka masih menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang musyrikin pada zaman jahiliyah juga mereka mengenal Allah, mereka mencintai Allah, bahkan mereka menjadikan Allah lebih tinggi daripada Tuhan-Tuhan mereka, mereka memiliki tauhid rububiyah, tapi bersama dengan ibadah mereka kepada Allah, cinta mereka kepada Allah, pengagungan mereka kepada Allah, mereka masih berbuat syirik dengan menyembah selain Allah meskipun alasan mereka bahwa sesembahan ini adalah pemberi syafaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya mereka mengenal Allah, mereka mengagungkan Allah, mereka bahkan menjadikan Allah lebih tinggi derajatnya daripada Tuhan-Tuhan sesembahan mereka, yaitu berhala-berhala yang mereka sembah. Jadi mereka sudah menuhankan Allah, tapi mereka tidak istiqamah, mereka tidak konsisten dengan keimanan itu. Karena mereka masih menyembah selain Allah, meminta kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah. Mereka tidak istiqamah. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu juga mengatakan arti istiqamah adalah mereka tidak berpaling kepada Tuhan yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi kalau kita sudah meyakini Allah adalah Tuhan kita, kita istiqamah di atas keyakinan bahwasannya Allah adalah Tuhan kita, Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah dan diminta, kita tidak menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, itulah yang namanya tauhid. Adapun kalau kita mengatakan cinta Allah, menyembah Allah, tapi masih menyembelih untuk selain Allah, masih meminta kepada orang-orang yang sudah meninggal, masih menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berarti kita belum istiqamah, kita masih berpaling kepada Tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq juga mengatakan “Kemudian mereka istiqamah di atas keyakinan bahwasanya Allah adalah Tuhan mereka.” Ini adalah yang dituntut dari kita. Ini menjelaskan tentang pentingnya tauhid dan juga pentingnya istiqamah di atas tauhid. Maka dengan penafsiran seperti ini maka hadits ini dan juga ayat yang baru kita bacakan tadi senada dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Dan sembahlah Allah dan jangan engkau menyekutukan Dia dengan sesuatupun.” QS. An-Nisa[4] 36 Kita diperintahkan untuk mengesakan Allah, bertauhid kepada Allah, dilarang untuk menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga senada dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾ “Dan orang-orang yang beriman kemudian mereka tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzaliman, mereka akan mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” QS. Al-An’am[6] 82 Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwasanya orang-orang yang beriman, kemudian mereka tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzaliman, yang dimaksud dengan kedzaliman di sini adalah kedzaliman akbar, yaitu syirik. Jadi kalau mereka tidak mencampuri keimanan mereka dengan kemusyrikan, maka mereka akan mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Saat mendengar turunnya ayat ini para sahabat merasa berat. Mereka berkata “Wahai Rasulullah, syaratnya berat sekali. Siapa diantara kami yang tidak mendzalimi dirinya? Kalau syarat untuk bisa mendapatkan keamanan dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah beriman kemudian tidak mencampuri keimanan dengan kedzaliman, maka itu sangat berat untuk kami Wahai Rasulullah. Karena kami semua tidak bisa memenuhi syarat itu. Kami semuanya memang telah beriman kepada Allah, tapi kami masih berbuat dzalim.” Maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan, beliau mengurai problem ini, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud kedzaliman di sini bukan kedzaliman seperti yang kalian pahami. Tapi yang dimaksud adalah kedzaliman akbar, seperti yang disebutkan oleh Luqman ketika menasihati putra beliau …يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّـهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾ “Wahai ananda, jangan engkau berbuat syirik kepada Allah, sungguh syirik itu adalah kedzaliman yang besar.” QS. Luqman[31] 13 Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan lengkapnya.. Download mp3 Kajian Hadits Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Lihat juga Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama “Hadits Arbain Ke 21 – Hadits Tentang Istiqamah” ini ke jejaring sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِرِّ وَالعَلَانِيَةِ وَالغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ . Kaum muslimin, Dalam shalat maghrib, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu anhu memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia”. [Quran Ali Imran 8]. Doa ini dibaca Abu Bakar sekitar lima hari setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dimana banyak orang-orang murtad sepeninggal beliau. Dan Abu Bakar sendiri adalah orang yang memerangi orang-orang murtad tersebut. Karena fenomena banyaknya orang murtad dan tergelincir setelah sebelumnya memeluk Islam, Abu Bakar pun memanjatkan doa ini dalam shalatnya. Meminta keteguhan dalam memegang agama dan dijauhkan dari tergelincir adalah sesuatu yang hendaknya membasahi lisan-lisan orang-orang yang sadar akan akhirat dan senantiasa berharap rahmat Allah. Tidak sepantasnya lisan seseorang mukmin luput dari memohon istiqomah dan senantiasa dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah seseorang yang Allah janjikan akan memberinya suatu pemberian yang membuatnya ridha. Beliau mendapatkan kedudukan yang mulia di surga. Kedudukan yang tidak didapatkan seorang pun selain beliau. Dijamin ampunan dosa, baik yang telah dilakukan maupun yang belum dilakukan. Dan keutamaan-keutamaan lainnya. Tapi beliau tetap meminta istiqomah kepada Allah Ta’ala. عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ ” يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ ” . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ ” نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أَصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ ” Dari Anas, ia berkata, “Merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperbanyak doa Yaa muqollibal qulub tsabbit qalbi ala diinik Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu’. Aku katakan, Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada Anda dan apa yang Anda bawa. Apakah Anda masih khawatir terhadap kami?’ Beliau menjawab, Iya. Karena sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari Allah. Lalu Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya’.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan at-Turmudzi]. Hati Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah hati yang paling jauh dari ketergelinciran. Bahkan bisa kita katakana mustahil hati beliau tergelincir dari hidayah Islam. Tapi beliau memperbanyak membaca doa ini. Dan beliau pun mengkhawatirkan para sahabatnya yang ketakwaan mereka sudah dipuji oleh Allah Ta’ala. عَنِ النَّوَّاسُ بْنُ سَمْعَانَ الْكِلابِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَا مِنْ قَلْبٍ إِلاَّ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ إِنْ شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ» Dari Nawas bin Sam’an al-Kilabi, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak ada satu hati pun kecuali berada di antara dua jari Ar-Rahman. Jika Dia menginginkan hati tersebut istiqomah, ia akan istiqomah. Kalau Dia menghendaki hati tersebut tergelincir, ia akan tergelincir’.” [HR. Ahmad]. Dan kita kembali kepada doa Abu Bakar di surat Al-Imran ayat 8 di atas, doa tersebut adalah doa yang dibaca oleh orang-orang yang mendalam ilmunya. Sebagaimana di ayat sebelumnya وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya melainkan orang-orang yang berakal.” [Quran Ali Imran 7] Kemudian mereka membaca doa seperti di ayat yang ke-8. Kalau kita renungkan, siapakah yang memiliki kemugkinan tergelincir lebih besar? Orang-orang yang tidak berilmu atau orang-orang yang mendalam ilmunya? Atau dengan bahasa lain, siapakah yang lebih besar kemungkinan tersesat, ulama atau orang awam? Tidak diragukan lagi, orang awamlah yang kemungkinan menyimpangnya lebih besar. Tapi mereka berdoa وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ 7 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ 8 “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya melainkan orang-orang yang berakal. Mereka berkata “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia”. [Quran Ali Imran 7-8]. Merekalah orang-orang yang takut dan khawatir menyimpang. Mereka meneladani nabi mereka Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang memperbanyak doa يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ “Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Kalau kita perhatikan riwayat-riwayat di atas tentang doa ini. Diriwayatkan oleh Anas. Oleh Nawas. Dan ada juga riwayat Aisyah. Semuanya mengatakan nabi banyak mengucapkan doa tersebut. Kalau tiga orang yang meriwayatkan, ketiga-tiganya sering mendengar Nabi mengatakan doa ini, artinya doa ini benar-benar sering dipanjatkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian Nabi juga mengkhawatirkan para sahabat yang dipuji sebagai generasi terbaik umat ini, beliau tetap khawatir para sahabatnya tergelincir dari agama ini. Beliau perintahkan agar banyak memohon keteguhan dalam agama. Lalu bagaimana dengan kita umat akhir zaman? Kita telah melihat banyak fitnah dan penyimpangan. Fitnah syubhat dan syahwat bertebaran. Bisa ditemui dan didapatkan tanpa kita cari. Kita melihat Alquran dituduh dengan tuduhan bermacam-macam. Demikian juga dengan agama ini. Kita juga mendengar pribadi Rasulullah yang dipuji oleh Allah, dipuji oleh orang-orang yang tidak beriman kepada beliau, tapi di akhir zaman ini dituduh dengan bermacam tuduhan keji. Kita melihat sesuatu yang tidak disaksikan generasi terbaik umat ini. Kita juga menyaksikan bid’ah-bid’ah dan kelompok bid’ah tersebar di tengah kaum muslimin. Perpecahan umat yang begitu besar. Darah dan kehormatan dihalalkan. Kita menyaksikan banyak orang murtad dari agama ini. Kita semua umat akhir zaman menyaksikan ini. Artinya kebutuhan kita akan doa ini sangat besar sekali. Lihatlah Abu Bakar ash-Shiddiq dengan kualitas keimanan yang beliau miliki, hanya lima hari saja setelah Rasulullah wafat, beliau memperbanyak doa agar tetap istiqomah di atas agama. Padahal fitnah yang beliau lihat hanya satu. Yaitu orang-orang murtad. Kebutuhan kita dengan doa ini sangatlah besar. Degradasi akidah, akhlak, dan moral tersebar di tengah kita. Kaum muslimin, Di antara kiat agar kita istiqomah adalah perasaan butuh akan istiqomah dalam agama. Dan hanya Allah saja yang bisa meneguhkan kita di atas agama ini. Kalau Allah tidak meneguhkan kita, pasti kita akan tersesat. Di antara tipu daya terbesar dari Iblis adalah seseorang merasa teguhnya dia dalam Islam karena usahanya sendiri. Istiqomahnya karena kuatnya hatinya. Demi Allah, tidak demikian hakikatnya. Semua ini hanyalah dari Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيلًا “Dan kalau Kami tidak memperkuat hatimu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” [Quran Al-Isra 74] Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, استَقِيمُوا ولنْ تُحْصُوا “Istiqomahlah dan kalian tidaklah akan mampu untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah.” [HR. Malik]. Kemudian sebab lainnya agar kita istiqomah adalah bersegera dalam ketaatan. Jangan tunda. Dan jangan remehkan kebaikan sedikit pun. Semua yang bermanfaat untuk akhirat Anda, segera amalkanlah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah musibah seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [HR. Muslim] Kiat lainnya adalah berislam secara kafah. Mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” [Quran Al-Baqarah 208]. Dan melaksanakan perintah Allah adalah sebab seseorang istiqomah. Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا۟ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka.” [Quran An-Nisa 66]. Kiat lainnya adalah memiliki perhatian besar terhadap Alquran. Membacanya, menadabburinya, mempelajarinya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ نَزَّلَهُۥ رُوحُ ٱلْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِٱلْحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ Katakanlah “Ruhul Qudus Jibril menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah”. [Quran An-Nahl 102] Kita memohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas agama Islam. Dan wafat dalam keadaan memeluk agama yang mulia ini. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Diambil dari ceramah Syaikh Said al-KamaliOleh tim Artikel
Assalamulaikum warohmatullahi wabarokatuh. Pada artikel kali ini saya akan menyajikan sebuah teks ceramah tentang istiqomah. Teks ceramah ini didesain untuk ceramah singkat 5 menit yang dapat dipakai oleh para da’i dalam menyampaikan ilmu-ilmu agama. Ceramah ini didesain dengan penuh isi yang singkat dan jelas. Baca juga Ceramah Singkat Perintah Takwa Ceramah Singkat Perintah TaubatPidato Singkat tentang InfaqKeutamaan Membaca al-QuranKeutamaan Membaca al-Qur'an beserta DalilnyaSikap Teladan Nabi NuhCara Mengusir Jin Kiriman OrangContoh Pridato Isra' Mi'raj 2022Kultum Singkat tentang Zakat Beserta DalilnyaCeramah Singkat tentang Hijrah dan IstiqomahSifat Arsy Allah Penuturan Ibnu KatsirKisah Diciptakannya Nabi Adam dan Hawa Ayat-ayat dan KeunggulanSilih Sanggah antara Adam dan MusaHadits-hadits tentang Penciptaan AdamKisah Nabi Idris Memiliki Kedudukan yang TinggiKisah Teladan Nabi Nuh Syukur, Puasa, dan Haji Berikut ini Ceramah Singkat tentang Istiqomah. Judul Perintah Beristiqomah السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ السَّلَامِ الْمُؤْمِنِ الْمُهَيْمِنِ الْعَلَّامِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى حَبِيبِهِ وَخِيرَتِهِ مِنْ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَنَامِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ Segala puji hanya milik Allah. Berkat kuasa dan kehendak-Nya, kita semua dapat berkumpul dalam tempat yang mulia ini. Solawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda alam, Nabi Muhammad saw. Tidak lupa kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya. Aamiin. Para hadirin yang saya cintai. Kita masih berada di dalam suasana covid19. Gugus Tugas Penanggulangan covid19 masih bekerja keras dalam memperbaiki situasi yang sedang terjadi di negara kita tercinta ini. Sebagai seorang muslim, suatu hal penting yang harus kita jaga adalah iman dan islam yang terimplementasikan dalam bentuk ketaatan kita kepada Allah. Para hadirin yang saya cintai. Salah satu karakter yang harus kita miliki adalah istiqomah. Apa itu istiqomah? Secara sederhana, saya mengartikan istiqomah yaitu berdiri teguh pada sesuatu. Dalam hal apa kita harus beristiqomah? Kita harus beristiqomah dalam hal menjalankan ketaatan kepada Allah. Allah berfirman di dalam al-Qur’an urat Hud ayat 112. فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ Artinya Maka tetaplah Engkau Muhammad di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sunggu, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan. Para hadirin yang saya cintai. Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan juga orang-orang yang mengikut Nabi Muhammad untuk beristiqomah di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Apa saja bentuk menjalankan ketaatan kepada Allah? Tidak lain bentuk dari ketaatan itu adalah apa yang tertera di dalam wahyu Nabi Muhammad yaitu al-Qur’an. Maka dari itu, sebagai seorang muslim, kita harus mengikuti Nabi Muhammad. Itu berarti perintah istiqomah di dalam ketaatan kepada Allah juga diperintahkan kepada kita semua. Selain itu, ada larangan dari Allah yaitu larangan kufur dan bermaksiat kepada-Nya. Dan kedua hal ini, yakni perintah istiqomah dalam ketaatan dan tidak bermaksiat ditegaskan oleh Allah dengan memberitakan kepada kita bahwa Allah itu Maha Melihat apa saja yang kita kerjakan. Allah melihat semua kebaikan yang kita kerjakan. Allah juga melihat semua keburukan yang kita lakukan. Para hadirin yang saya cintai. Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan. Mudah-mudahan kita dianugerahi keberkahan dan kemanfaatan dari pembicaraan kita tentang istiqomah ini. وَاللهُ الْمُوَفِّقُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Origin is unreachable Error code 523 2023-06-16 171807 UTC What happened? The origin web server is not reachable. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Check your DNS Settings. A 523 error means that Cloudflare could not reach your host web server. The most common cause is that your DNS settings are incorrect. Please contact your hosting provider to confirm your origin IP and then make sure the correct IP is listed for your A record in your Cloudflare DNS Settings page. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d84b53f0bf4b79d • Your IP • Performance & security by Cloudflare
Ilustrasi Ceramah Ramadhan tentang Zakat, sumber satu kegiatan yang dianjurkan pada saat bulan ramadhan adalah memperkaya ilmu dengan mendengarkan ceramah atau kultum kuliah tujuh menit yang biasanya dilakukan menjelang buka puasa, di sela-sela sholat Isya dan tarawih, juga pada saat sholat subuh. Banyak tema terkait bulan puasa ramadhan yang bisa dijadikan materi untuk pelaksanaan ceramah, yang intinya memberikan atau berbagi pengetahuan agar umat muslim menjadi istiqomah, taat dan tunduk kepada perintah agama yang sesuai Alquran dan hadis. Salah satu ceramah ramadhan yang menyentuh hati adalah mengenai keutamaan zakat di bulan suci penuh berkah ini, agar saling tolong menolong dengan sesama muslim.. Berikut ini contoh materi ceramahnya. Contoh Teks Ceramah Ramadhan Mengenai Keutamaan ZakatContoh teks kultum atau ceramah Ramadan yang dirangkum dari buku Panduan Lengkap Khutbah Sepanjang Masa & Kultum Paling Inspiratif, Ibnu Abhi Nashir 2017 233Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas nikmatnya yang luar biasa, sholawat dan salam untuk junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Hadirin yang dimuliakan Allah SWT, zakat merupakan amalan yang wajib dilaksanakan setelah melakukan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Zakat yang kita tunaikan tidak akan membuat kita menjadi miskin. Justru sebaliknya dengan berzakat maka akan mensucikan harta yang kita miliki dan juga membuka pintu rejeki bagi kita yang membayar sebagai umat muslim memiliki kewajiban untuk menunaikan zakat fitrah. Zakat fitrah wajib ditunaikan bagi semua orang kecuali mereka yang menjadi bagian dari golongan yang menerima zakat. Dengan berzakat, kita bisa membantu sesama terutama menjelang hari raya Idul Fitri untuk sedikit meringankan beban mereka. Zakat fitrah ini hukumnya wajib bagi setiap muslim yang mampu. Kadar kemampuan di sini yaitu bila mempunyai kelebihan makanan selama sehari itu. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ummar RA “Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, kecil dan besar dari umat Islam”.Menurut para ulama, zakat fitrah harus dengan bahan makanan pokok, tidak boleh diganti dengan uang kecuali sangat darurat sekali. Karena pada zaman Rasulullah SAW. dan para sahabat tidak ada zakat fitrah yang menggunakan uang, padahal pada saat itusudah ada uang. Sehingga berzakat dengan makanan pokok lebih utama karena hal tersebut sebagaimana contoh dari Rasulullah Shalat Isya’ dan Tarawih zakat merupakan salah satu sifat orang-orang yang berbakti dan penghuni surga, sebagaimana firman Allah dalam Alquran “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman jannah dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” QS. Adz-Dzariyat ayat 15-19.Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih zakat adalah salah satu sifat kaum Mukminin yang berhak mendapatkan rahmat Allah. Di dalam Alquran Allah berfirman “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah.” QS. At-Taubah ayat 71Jama’ah Shalat Isya’ dan Tarawih akan mengembangkan dan menyuburkan harta zakat bagi orang yang mengeluarkan zakat seperti yang sudah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firmannya “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” QS. Al-Baqarah ayat 276Zakat adalah kewajiban kita kepada Allah, untuk membersihkan jiwa kita. Tanggung jawab yang musti dilaksanakan. Kita memohon kepada Allah agar senantiasa membersihkan hati, jiwa dan fikiran kita dengan senantiasa beramal, bersadaqah, berinfaq dan mengeluarkan zakat, khususnya di bulan Ramadhan yang penuh berkah Warahmatullohi Wabarokatuh.WS
teks ceramah agama tentang istiqomah